Ada pula seorang pria biasa-biasa saja. Namanya Binsar umur 52 tahun, seorang penambal ban di pinggir jalan. Tidak kaya, istri pun tidak cantik namun setia dan begitu mengerti dirinya. Binsar sama sekali belum ada gambaran, keempat anaknya mau jadi apa kelak. Tak ada tabungan uang dan harta apa pun. Pendapatan ekonomi sehari hanya cukup untuk sehari. Sangat pas-pasan. Saya pernah bertanya kepadanya, apakah diri dan keluarganya bahagia? Binsar menjawab dengan logat Bataknya yang amat kental, “kami memang tidak kaya, kami hidup pas-pasan. Tapi saya bahagia. Istri saya sangat pengertian. Hidup ini sudah ada yang mengatur… saya jalani aja, Bang”.
Kebahagiaan bersifat sangat personal. Tidak selalu melekat pada diri dan bisa bersifat temporer. Pada kurun waktu tertentu orang bisa merasakan kebahagiaan, namun sejurus kemudian kebahagiaan itu menguap entah ke mana. Seorang suami bisa begitu bahagia, namun istrinya tidak. Demikian pula anak-anaknya, ada yang bahagia ada pula yang tidak bahagia karena hidup tertekan.
Para pemikir klasik Yunani kuno telah menempatkan isu “kebahagiaan” dalam berbagai kancah diskusi dan pengajaran mereka di pasar-pasar atau di pinggir-pinggir jalan. Bukan hanya pada era Sokrates guru dari filsuf terkemuka Plato tahun 400-an SM. Jauh sebelum itu, Thales, Anaximander, Anaximenes, Zeno, Heraclitos, Phytagoras sampai Anaxagoras bicara tentang kebijaksanaan yang berujung pada kebahagiaan bagi manusia. Filsafat mengalir menuju kebijaksanaan berlabuh di pantai kebahagiaan.
Agama-agama dunia mengajarkan bagaimana manusia bisa menggapai kebahagiaan. Salah satunya ajaran tentang kebijaksanaan dari Timur. Dalam ajaran filsafat India kuno sangat jelas tergambarkan. Bahwa jika manusia ingin hidup bahagia ikuti jalan yang diajarkan Sidharta Gautama. Ada 8 jalan kebenaran yang dapat membawa manusia hidup bahagia dan jauh dari duka. Kebahagiaan sejati bisa dialami manusia di dunia, jika ia tidak lagi terikat erat oleh hal-hal duniawi. Keterikatan kuat pada persoalan duniawi inilah yang membuat manusia tidak lagi bisa hidup bahagia dan selalu dilanda duka. Nirwana – kebahagiaan sejati – menjadi tujuan dari hidup manusia.
“Bisakah keterikatan pada hal-hal yang bersifat materi duniawi membawa kita ke dalam kebahagiaan sejati?” tanya seorang murid pada seorang guru Zen.
Sang guru Zen tidak segera menjawab namun hanya tampak mengerutkan dahinya.
“Guru. Saya ingin mendapatkan kebahagiaan sejati, tapi saya juga tidak ingin meninggalkan harta benda dan kesenangan-kesenangan duniawi” kata si murid.
Jawab Sang Guru Zen, “Sayang sekali. Kebahagiaan sejati hanya mengenal warna putih….